Analisisku pada kondisi fakultas sekarang :
1. para pelaku/ actor
orang proyek
money politic (ga jelas, masih simpang siur---hati2 fitnah)
pembagian kekuasaan
aliansi yang curang
hutang budi
black campaign
2. mahasiswa
belum terorganisir dengan baik
kurang progresif
tidak ada inisiatif
tidak sadar kondisi
tidak sensitif
3. dosen
ga punya pendirian
ga punya pemikiran
manutan
kompak dalam kebathilan
nurani terjual
4. karyawan
5. kultur
6. aturan main
ga jelas
ga disosialisasikan secara masif
Aliansi
Orang proyek
Pembagian kekuasaan
Pengecut
MENGHARAP GOOD GOVERNANCE : IMPOSSIBLE
(Bagaimana dengan pemilihan dekanat FISE?)
Tak lagi terkejut melihat indikasi ’influence buying’ atau semacam transaksi kepentingan yang dilakukan seorang actor politik dengan orang berpengaruh agar menjatuhkan dukungannya kepada seorang actor politik tersebut di percaturan politik level rendah (apalagi jika andai terjadi di level fakultas) yang justru akan menjadi ’fun therapy’ (terapi dengan sesuatu yang lucu-seperti opera sabun) yang menggugah benak (sebagian kecil sekali!) mahasiswa yang kian ditidurkan secara sistemik dan kultural di tempat belajar sendiri (kampus gaya Indonesia yang masih berbudaya ORBAISTIS), tentu saja sebagai penyubur rasa kecewa mereka yang berpikir dan tahu tentang pelaku politik busuk di depan mata mereka. Mengapa harus orang berpengaruh? Jelas saja, ini adalah strategi tua (yang anak kecil saja tahu..), logikanya sangat sederhana, orang berpengaruh siapapun dia sudah tentu akan memancing para pengekor mereka untuk juga memberikan dukungan pada actor politik yang didukung orang berpengaruh tersebut. Maklumlah zaman penuh demagog begini ‘wabah amnesia’ untuk berbuat atas dasar nurani yang bersih dengan kehidupan sosial sudah ibarat api dan cahaya, manusia dengan sesamanya di level yang sama singkir-menyingkirkan, pada level yang lebih tinggi jilat-menjilat (disgusting!!-mohon dicari di kamus).
Jika hal diatas terjadi di percaturan politik level rendah setingkat kampus, maka komentar penyadaran (yang jarang sekali terungkap) seperti di bawah ini menjadi biasa (di kalangan terbatas) “Sadarlah ini adalah kampus, tempat persemaian para calon guru (UNY) yang kelak memegang tampuk kelanggengan dunia pendidikan, bukan panggung politik. Buat apa kampus ini disulap menjadi ajang bagi-bagi kekuasaan? apalagi jika dijadikan ajang praktek korupsi, dan hal-hal rendahan yang jauh dari citra intelektual keguruan, bisa-bisa Ki Hajar Dewantoro bangkit dari kuburnya dan meraung-raung menangisi kondisi ini. Jika dalam persiapan mereguk kemenangan yang orang sebut sebagai pesta demokrasi saja sudah lakukan money politic, gimana kalo sudah naik di kursi jabatan? Nggak keren banget sih...”.
Sedikit menyinggung money di dunia politik, seorang kawan pernah bertutur bahwa Uang adalah sebab, cara, dan tujuan dari peradaban manusia sekarang. Jadi jangan heran kalau politik demokrasi di ’ganggu’ dengan penggunaan uang secara ilegal dan tidak etis. Uang adalah sebab, cara, dan tujuan dari dilakukannya semua hal dalam peradaban kapitalistik-materialistik-imajiner seperti sekarang ini. PATHETIC!! Abraham Lincoln abad 20: “Democracy is a government from the people (with money), by the people(’s money), and for the people (with enough money, the least the better so no fair distribution is needed).” Maksudnya kurang lebih demikian, demokrasi adalah pemerintahan dari (duit) rakyat, oleh (duit) rakyat, dan untuk rakyat (yang punya cukup uang, sehingga ketidakjujuran menjadi hal yang dibutuhkan).
Berbagai blok pasca pemilihan dekan justru malah terbentuk di kampus ini, anehnya akal sehat sudah jauh tersingkir, makanya..sulit memutuskan antara untuk pilih yang benar dan bermoral atau membebek pada sang pemilik sumber kapital atau hanya sekedar mencari posisi aman. Repot jika sudah begini, bisa-bisa percaturan kekuasaan di kampus ini tidak lagi mengemban visi dan misi untuk memajukan pendidikan, yang lebih kekanakkan lagi adalah adanya tuduhan tak berdasar pada sekelompok orang tertentu.
Jangan lupa masalah men setting, coba pikir, misalnya saja apakah tepat meletakan SDM yang berkapasitas di bidang dagang untuk jadi baby sitter. Bisa-bisa...jadi jalur menuju children traficking kan??. Ayolah mahasiswa...berpikir dan berani suarakan aspirasi dan tegakkan kebenaran. Ingat Gie bilang kalian adalah the happy selected few, kalian dibiayai rakyat dalam perkuliahan kalian...balaslah budimu dengan perjuangkan kebenaran dan jadilah orang terdepan yang memperjuangkan nasib rakyat. Jangan biarkan bermunculan pendekar berwatak jahat dimana pun kalian menjejak bumi. percuma jadi mahasiswa jika pola pikir masih inklander yang selalu siap dijajah dan dininabobokan.
No comments:
Post a Comment