Sunday, February 15, 2015

Berbicara mengenai hati

Manusia sebagaimana dikatakan di dalam ayat-ayat Alqur’an adalah mahluk dengan sifat lalai, lupa, bodoh, lemah, mudah terperdaya, tergesa-gesa, berkeluh kesah, penakut, berlebih-lebihan, ingkar, kufur nikmat, dan suka berangan-angan. Dengan ragam sifat tersebut maka tak heran apabila sepanjang perjalanan hidupnya dapat dilihat ulah manusia yang lahir dari hawa nafsu yaitu perbuatan ingkar terhadap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Sifat-sifat buruk manusia yang kelak menyeretnya pada penderitaan dunia dan akhirat tersebut bersumber dari hati yang sakit, sehingga hati tersebut tidak mampu menjadi nakhoda yang mengendalikan seluruh tubuh, akal dan pikiran ke arah jalan yang diridhoi dan dicintai oleh Allah SWT. Apabila hati telah kehilangan kemampuannya untuk mengendalikan perilaku, maka manusia akan mudah tersesat dan ringan dalam melakukan dosa-dosa. Naudzubillahi min dzalik

Proses bagaimana dilakukannya sebuah dosa baik besar maupun kecil oleh manusia, sebetulnya selalu melalui beberapa tahap.  Artinya dalam setiap terjadinya sebuah dosa, Allah SWT selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk menarik diri (mengurungkan niat bermaksiat) dan bertaubat di sela-sela dorongan hawa nafsu dan godaan syetan. Lagi-lagi ini merupakan kinerja hati yang meski dalam keadaan hati tersebut telah sakit, Allah masih membisikkan agar manusia menjauhi maksiat. Hal ini adalah suatu bukti bahwa hati nurani manusia pada fitrahnya adalah suci dan cenderung pada kebaikan.  Lalu bagaimana prosesnya hingga hati manusia menjadi sakit, atau mati? Tentu kondisi tersebut tidak lepas dari ulah bodoh manusia itu sendiri. Sebagai contoh adalah sifat lalai yang menyebabkan manusia tidak waspada dan kurangnya pemahaman diri mengenai syariat.


Sungguh, Islam merupakan Agama yang manakala semakin dipelajari justru akan semakin menambah keimanan dan kecintaan diri manusia terhadap Allah SWT. Mudah sekali untuk berpindah dari kondisi kegelapan kepada kondisi yang selalu diliputi oleh nur cahaya Illahi, namun harus dipenuhi syaratnya. Syarat tersebut adalah kepasrahan, keikhlasan, kebersediaan diri atau hati manusia di dalam menerima cahaya dari Allah. Manakala cahaya telah masuk ke dalam hati, maka yakinlah…tidak ada hal yang lebih baik dari dunia dan seisinya selain nikmat iman.  Sesungguhnya cahaya Allah itu tersedia di sekitar manusia dan sangat dekat tidak peduli di mana pun tempat seorang manusia berada. Namun, tidak setiap manusia memiliki kemampuan untuk menangkap cahaya Allah tersebut. Oleh karena satu-satunya penolong terbaik adalah Allah…mohonlah dalam doa-doa kita agar hati ini dimampukan untuk menerima cahaya Allah.
the ability to make mistakes allows human being to function

No comments: