Manusia sebagaimana dikatakan di dalam
ayat-ayat Alqur’an adalah mahluk dengan sifat lalai, lupa, bodoh, lemah, mudah
terperdaya, tergesa-gesa, berkeluh kesah, penakut, berlebih-lebihan, ingkar,
kufur nikmat, dan suka berangan-angan. Dengan ragam sifat tersebut maka tak
heran apabila sepanjang perjalanan hidupnya dapat dilihat ulah manusia yang
lahir dari hawa nafsu yaitu perbuatan ingkar terhadap perintah Allah SWT dan
Rasul-Nya. Sifat-sifat buruk manusia yang kelak menyeretnya pada penderitaan dunia
dan akhirat tersebut bersumber dari hati yang sakit, sehingga hati tersebut
tidak mampu menjadi nakhoda yang mengendalikan seluruh tubuh, akal dan pikiran
ke arah jalan yang diridhoi dan dicintai oleh Allah SWT. Apabila hati telah
kehilangan kemampuannya untuk mengendalikan perilaku, maka manusia akan mudah
tersesat dan ringan dalam melakukan dosa-dosa. Naudzubillahi min dzalik
Proses bagaimana dilakukannya sebuah dosa baik
besar maupun kecil oleh manusia, sebetulnya selalu melalui beberapa tahap. Artinya dalam setiap terjadinya sebuah dosa,
Allah SWT selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk menarik diri
(mengurungkan niat bermaksiat) dan bertaubat di sela-sela dorongan hawa nafsu
dan godaan syetan. Lagi-lagi ini merupakan kinerja hati yang meski dalam
keadaan hati tersebut telah sakit, Allah masih membisikkan agar manusia
menjauhi maksiat. Hal ini adalah suatu bukti bahwa hati nurani manusia pada
fitrahnya adalah suci dan cenderung pada kebaikan. Lalu bagaimana prosesnya hingga hati manusia
menjadi sakit, atau mati? Tentu kondisi tersebut tidak lepas dari ulah bodoh
manusia itu sendiri. Sebagai contoh adalah sifat lalai yang menyebabkan manusia
tidak waspada dan kurangnya pemahaman diri mengenai syariat.
Sungguh, Islam merupakan Agama yang manakala
semakin dipelajari justru akan semakin menambah keimanan dan kecintaan diri
manusia terhadap Allah SWT. Mudah sekali untuk berpindah dari kondisi kegelapan
kepada kondisi yang selalu diliputi oleh nur cahaya Illahi, namun harus
dipenuhi syaratnya. Syarat tersebut adalah kepasrahan, keikhlasan, kebersediaan
diri atau hati manusia di dalam menerima cahaya dari Allah. Manakala cahaya
telah masuk ke dalam hati, maka yakinlah…tidak ada hal yang lebih baik dari
dunia dan seisinya selain nikmat iman.
Sesungguhnya cahaya Allah itu tersedia di sekitar manusia dan sangat
dekat tidak peduli di mana pun tempat seorang manusia berada. Namun, tidak
setiap manusia memiliki kemampuan untuk menangkap cahaya Allah tersebut. Oleh
karena satu-satunya penolong terbaik adalah Allah…mohonlah dalam doa-doa kita
agar hati ini dimampukan untuk menerima cahaya Allah.
the ability to make mistakes allows human being to function


No comments:
Post a Comment