Sistem
Ekonomi dan Pembangunan Kapabilitas Pertahanan Indonesia
I.
Pendahuluan
Sistem
ekonomi di dunia ada empat antara lain sistem ekonomi tradisional, sistem
ekonomi kapitalis, sistem ekonomi sosialis, dan sistem ekonomi campuran. Dua
diantaranya merupakan sistem ekonomi dominan yaitu sistem ekonomi kapitalis dan
sistem ekonomi sosialis.Perbedaan
mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya adalah
bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa sistem,
seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi. Sementara dalam sistem
lainnya, semua faktor tersebut dipegang oleh pemerintah. Kebanyakan sistem
ekonomi di dunia berada di antara dua sistem ekstrim liberal dan komunis.
Selain faktor produksi, sistem ekonomi juga dapat dibedakan dari cara sistem tersebut
mengatur produksi dan alokasi.
Menurut
Dumairy (1996: 30), Sistem ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur serta
menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam
suatu tatanan kehidupan. Selanjutnya dikatakannya pula bahwa suatu sistem
ekonomi tidaklah harus berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan falsafah, pandangan
dan pola hidup masyarakat tempatnya berpijak. Sistem ekonomi sesungguhnya
merupakan salah satu unsur saja dalam suatu supra sistem kehidupan masyarakat.
Sistem ekonomi merupakan bagian dari kesatuan ideologi kehidupan masyarakat di
suatu negara.
Pada
perkembangan selanjutnya, pertumbuhan ekonomi suatu negara umumnya akan meningkat dan menjadi faktor utama pendorong pembangunan kemampuan pertahanannya. Wajar karena biasanya sebagian dari hasil
pertumbuhan ekonomi itu dialokasikan untuk membangun kekuatan pertahanan.
Pertumbuhan kekuatan pertahanan ini diperlukan untuk menjaga stabilitas
ekonomi. Fungsi ini dapat dilihat misalnya pertahanan yang kuat diperlukan
untuk mengamankan jalur-jalur pelayaran kapal-kapal kargo ekspor dan impor dari
ancaman bajak laut. Pengamanan jalur-jalur pelayaran ini dapat dilakukan
apabila sebuah negara memiliki kapal patroli yang kuat, kapal radar untuk
memantau keamanan pelayaran, kapal reaksi cepat saat ada ancaman terhadap kapal
kargo, satelit dan bahkan pesawat-pesawat drone (tanpa awak) untuk mengawasi
dan mengamankan jalur pelayaran yang sangat fital bagi perekonomian.
Satu
negara yang sudah sangat kuat secara ekonomi akan membangun pertahanannya untuk
dapat mengamankan kekuatan ekonominya dari segala ancaman. Langkah-langkah
membangun pertahanan ini sudah dilakukan oleh semua negara, terutama
negara-negara yang memiliki kapasitas ekonomi sangat kuat, seperti Amerika
Serikat (AS). AS bahkan telah menempatkan semua armada lautnya di seluruh
wilayah perairan internasional agar dapat segera bereaksi saat terjadi ancaman
terhadap kepentingan nasionalnya, termasuk kepentingan ekonomi dan politiknya.
Indonesia
sebagai sebuah negara juga perlu membangun perekonomiannya sehingga hasil
pertumbuhan ekonomi itu dapat dialokasikan untuk membangun kekuatan
pertahanannya. Nilai strategis dari membangun pertahanan ini sangat penting
karena Indonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas yang perlu dikontrol
dan diamankan dari berbagai gangguan keamanan, baik itu yang menyangkut
kepentingan ekonomi ataupun politik. Banyak terjadinya ilegal fishing,
penyelundupan kayu, penyelundupan bahan bakar minyak, penyelundupan manusia perahu
atau human trafficking, menunjukkan pertahanan Indonesia masih lemah karena
belum dapat secara maksimal mengatasi berbagai ancaman tersebut.
II.
Sistem Ekonomi dan Kemampuan Pertahanan
Amerika Serikat (AS) dan China
Negara
yang masih menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia adalah Amerika Serikat
(AS). Setelah itu, China menyusul sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di
dunia. Selain menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia, AS juga memiliki
kemampuan militer terkuat di dunia, ditandai dengan nilai anggaran pertahanan
yang melampaui negara-negara lain di dunia. Kemudian, China juga melesat dengan
nilai anggaran pertahanan yang terus tumbuh semakin besar, seiring pertumbuhan
ekonominya.
AS
dengan ekonomi kapitalisnya bangkit sebagai negara superpower setelah
memenangkan Perang Dunia II. Ekonomi AS tumbuh kuat sebagai mercusuar dunia di
pasar modal, pasar uang, dan pasar komoditi. Dolar AS pun masih menjadi standar
utama dalam perdagangan internasional. Pertumbuhan ekonomi yang pesat ini
terjadi seiring keberhasilan revolusi hijau dan revolusi industri yang gaungnya
sangat terasa di benua AS dan Eropa. Tidak dapat dipungkiri, revolusi hijau dan
revolusi industri inilah yang menjadi dasar awal bangkitnya AS sebagai kekuatan
ekonomi dunia.
Hingga
saat ini, dominasi AS di sektor pertanian dengan beberapa komoditi andalannya
pun masih terasa. Diiringi dengan kekuatan sektor manufaktur dan industri yang
menjadi andalan untuk pertumbuhan ekspor negara tersebut. AS masih menjadi
industri utama untuk pesawat terbang melalui pesawat-pesawat buatan Boeing,
serta industri pertahanan yang didukung publik dan pemerintah. Ekonomi AS yang
didukung konsumsi domestik yang kuat juga menciptakan stabilitas pada struktur
ekonomi Negara Paman Sam tersebut.
Keuntungan
dari pertumbuhan ekonomi itulah yang kemudian digunakan untuk membangun
kekuatan pertahanannya. Tidak hanya itu, industri pertahanan AS juga menjadi
soko guru pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Hal itu dapat dilihat dari
besarnya sumbangan sektor industri pertahanan bagi produk domestik bruto (PDB)
AS. Industri pertahanan AS yang kuat itu juga didukung oleh kemampuan teknologi
tinggi yang mereka kuasai dan terus dikembangkan sejak Perang Dunia I, Perang
Dunia II, Perang Dingin, hingga saat ini. Pengalaman perang pada saat Perang
Dunia I dan II serta Perang Dingin itu bahkan mampu membuat industri manufaktur
berubah menjadi industri pertahanan apabila diperlukan saat suasana genting.
Meski
demikian, saat ini pengaruh AS mulai dibayang-bayangi oleh China. Negara
komunis itu mampu bangkit membangun perekonomiannya sehingga saat ini mampu
menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. China disebut menerapkan
kebijakan ekonomi sosialis, meski demikian, seiring perkembangan waktu, Negara
itu juga menurut beberapa pengamat menerapkan beberapa sistem kapitalis. China
melakukan proteksi yang sangat kuat terhadap industri dalam negerinya dari
ancaman asing. Meski demikian, China mendorong perusahaan-perusahaan di negara
itu melakukan ekspor dan ekspansi bisnis ke luar negeri. Dukungan pemerintah
itu membuat banyak perusahaan China berani melakukan akuisisi besar-besaran
terhadap perusahaan-perusahaan di AS dan Eropa. Kebijakan pemerintah China
untuk tetap membuat mata uang yuan bernilai rendah di pasar internasional, juga
sangat menguntungkan para eksportir asal China karena memiliki daya saing yang
lebih besar terhadap pesaing dari negara lain.
Salah
satu protes AS terhadap China ialah terkait nilai mata uang yuan tersebut. AS
terus mendesak China agar nilai mata uang yuan tidak dipatok pada level yang
sangat rendah. Kendati mendapat protes dari AS, China tetap tidak
menghiraukannya. Meski demikian, China mulai menjajagi kemungkinan menerapkan
kebijakan mata uang yuan yang mengambang atau ditentukan oleh pasar, langkah
ini diterapkan di zona perdagangan bebas Shanghai.
Semua
langkah itu diterapkan dalam sistem perekonomian China sehingga negara itu
semakin kuat secara ekonomi. Seiring dengan menguatnya perekonomian China,
negara itu juga terus membangun kekuatan pertahanannya. Yang lebih
mengkhawatirkan AS ialah pertumbuhan anggaran militer China yang setiap tahun
terus meningkat. AS bahkan mencurigai China mengumumkan jumlah anggaran militer
yang lebih sedikit dibandingkan anggaran militer Negeri Panda itu sesungguhnya.
Pertumbuhan kekuatan militer China dapat dilihat dari berbagai teknologi tinggi
yang kini mereka kuasai antara lain rudal yang dapat menembak jatuh satelit,
pesawat tempur stealth yang tidak dapat dilacak oleh radar, kapal induk
pertama, dan berbagai perkembangan lainnya. China juga menunjukkan sikap
agresif di Laut China Selatan dan Laut China Timur. China mengklaim memiliki
seluruh wilayah perairan tersebut sehingga menciptakan perselisihan dengan
negara-negara tetangga, terutama Jepang.
Kedua
negara itu dapat menjadi cermin bagi Indonesia bahwa membangun perekonomian
sangat penting sehingga sebuah negara juga dapat membangun kekuatan
pertahanannya. Sebaliknya, membangun industri pertahanan juga sangat penting
untuk dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi negara.
III.
Sistem ekonomi Indonesia dan Pertahanan
Indonesia
Indonesia
menganut sistem ekonomi campuran. Artinya, Indonesia menggabungkan sejumlah hal
positif dari berbagai sistem ekonomi yang ada. Dengan sistem perekonomian itu,
Indonesia berupaya membangun kekuatan pertahanannya. Meski demikian, masih
banyak kendala yang terjadi seiring perjalanan waktu. Upaya Indonesia membangun
kekuatan pertahanannya rupanya tidak berjalan mulus karena banyaknya
kepentingan yang ada, baik itu kepentingan domestik ataupun kepentingan
internasional.
Di
era Presiden Sukarno, Indonesia mampu menjadi kekuatan pertahanan yang disegani
di Bumi Belahan Selatan. Setelah pemerintahan Sukarno berakhir, era Orde Baru
menjadikan militer sebagai kekuatan pertahanan dan politik. Adanya Dwi Fungsi
ABRI di era Presiden Soeharto inilah yang menurut sebagian pengamat memperlemah
kemampuan pertahanan Indonesia pada era Orde Baru. Pejabat militer di era Orde
Baru juga menempati posisi-posisi politik di pemerintahan sehingga fungsi utama
mereka sebagai kekuatan pertahanan menjadi dinomor duakan. Pertumbuhan
peralatan pertahanan, termasuk peralatan perang dan militer pada masa Orde
Baru, juga mengalami penurunan, dibandingkan di era Orde Lama.
Padahal
pada era Boom Minyak pada kurun 1980-an dan 1990-an merupakan saat yang tepat
bagi Indonesia untuk membangun kekuatan pertahanan, termasuk membangun industri
pertahanan yang disegani dengan menggunakan sebagian keuntungan penjualan
minyak bumi yang saat itu harganya melambung tinggi. Memang tampak aneh jika
kita mengkaji saat ini, mengapa saat ekonomi Indonesia sangat kuat pada era
Orde Baru, tapi industri pertahanan dan kekuatan pertahanan tidak dibangun.
Setelah
era Orde Baru berakhir dan Dwi Fungsi ABRI dihapuskan di era Reformasi,
Indonesia mulai membangun kekuatan pertahanannya dengan membeli sejumlah
peralatan militer dan membangun industri pertahanannya. Di era Presiden
Megawati Sukarnoputri, Indonesia mulai membeli pesawat tempur Sukhoi dari
Rusia, kemudian di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Indonesia
memiliki lebih banyak armada pesawat tempur F16 dan juga menjalin kerja sama
dengan negara-negara lain, seperti Korea Selatan (Korsel) untuk membangun kapal
selam dan pesawat tempur. Yang lebih menggembirakan, di era SBY, Indonesia
mulai serius membangun industri pertahanannya.
Di
masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, diharapkan industri pertahanan ini
terus dibangun dan diperkuat, karena dampaknya sangat besar untuk turut
mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat pertahanan Indonesia. Membangun
industri pertahanan akan membuka banyak lapangan kerja, meningkatkan kemampuan
teknologi tinggi, dan membuka peluang ekspor produk pertahanan Indonesia ke
negara-negara lain. Itu artinya, pembangunan industri pertahanan memiliki
berbagai dampak positif yang tidak dapat diabaikan begitu saja oleh semua
negara.
IV.
Membangun Pertahanan Maritim
Salah
satu program kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo setelah dia dilantik
adalah membangun kekuatan pertahanan maritim. Program ini membuka peluang bagi
peningkatan industri pertahanan maritim dan pertahanan maritim itu sendiri.
Artinya, ada sektor industri yang dapat digarap oleh berbagai pihak dan di sisi
lain akan memperkuat pertahanan Indonesia.
Misalnya
dengan membangun industri kapal-kapal patroli maka ada lebih banyak perusahaan
yang akan memiliki proyek dan membutuhkan tambahan tenaga kerja. Industri kapal
ini akan membutuhkan bahan baku logam, yang berarti akan mendorong pertumbuhan
industri pertambangan mineral dan smelter. Di sisi lain, industri kapal akan
terpacu untuk meningkatkan kemampuan teknologi tingginya sehingga dapat
memenuhi standar untuk membuat kapal-kapal patroli yang berkualitas.
Kebijakan
membangun kekuatan maritim juga menuntut Indonesia membangun teknologi radar
dan pesawat tanpa awak (drone) yang dapat digunakan untuk pengawasan dan
pemantauan udara. Teknologi radar dan drone tentu merupakan teknologi tinggi
yang harus dikuasai oleh sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Kebijakan
membangun pertahanan maritim secara langsung akan membuat peningkatan kapasitas
SDM Indonesia terus dilakukan, baik dengan mengirim mereka ke luar negeri atau
memanggil para pakar asing ke Indonesia.
V.
Kesimpulan
Membangun ekonomi dan meningkatkan kekuatan
pertahanan Indonesia merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan. Keduanya
merupakan siklus yang akan saling menguatkan. Saat pertumbuhan ekonomi
ditingkatkan, maka ada kebutuhan juga untuk meningkatkan kekuatan pertahanan,
seperti yang sudah dilakukan AS dan China. Sebaliknya, saat kekuatan pertahanan
Indonesia dibangun melalui industri pertahanan dalam negeri, maka akan turut
mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan saat ekonomi tumbuh, ada alokasi
anggaran yang lebih banyak yang dapat digunakan untuk berinvestasi dalam
industri pertahanan.
Sistem
ekonomi yang diterapkan di sebuah negara akan memiliki dampak bagi peningkatan
kekuatan pertahanan apabila sejak awal telah disusun kebijakan yang saling
mendukung antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kekuatan pertahanan.
Apabila pemerintah mampu menyusun kebijakan yang saling mendukung antara kedua
hal ini, tidak mustahil, Indonesia akan bangkit sebagai kekuatan ekonomi dan
kekuatan pertahanan yang semakin disegani di dunia internasional. Dengan
menjadi kekuatan yang disegani di kancah global, Indonesia dapat lebih banyak
melakukan perannya dalam mendorong perdamaian dan keamanan regional dan global.
Daftar Pustaka
Dumairy. (1996). Perekonomian Indonesia.
Jakarta: Erlangga.
Dochak Latief. (1984). Perbandingan
sistem skonomi: islam, liberalisme, sosialisme. Yogyakarta: Yayasan penerbitan
FKIS IKIP
Cornelis Rintuh. (1995). Perekonomian
Indonesia. Yogyakarta: Liberty
Suroso. (1994). Perekonomian Indonesia.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
No comments:
Post a Comment