Saturday, February 14, 2015

Sistem Ekonomi Indonesia dan Pembangunan Kapabilitas pertahanan Indonesia



Sistem Ekonomi dan Pembangunan Kapabilitas Pertahanan Indonesia

       I.            Pendahuluan
Sistem ekonomi di dunia ada empat antara lain sistem ekonomi tradisional, sistem ekonomi kapitalis, sistem ekonomi sosialis, dan sistem ekonomi campuran. Dua diantaranya merupakan sistem ekonomi dominan yaitu sistem ekonomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis.Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi. Sementara dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut dipegang oleh pemerintah. Kebanyakan sistem ekonomi di dunia berada di antara dua sistem ekstrim liberal dan komunis. Selain faktor produksi, sistem ekonomi juga dapat dibedakan dari cara sistem tersebut mengatur produksi dan alokasi.
Menurut Dumairy (1996: 30), Sistem ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur serta menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam suatu tatanan kehidupan. Selanjutnya dikatakannya pula bahwa suatu sistem ekonomi tidaklah harus berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan falsafah, pandangan dan pola hidup masyarakat tempatnya berpijak. Sistem ekonomi sesungguhnya merupakan salah satu unsur saja dalam suatu supra sistem kehidupan masyarakat. Sistem ekonomi merupakan bagian dari kesatuan ideologi kehidupan masyarakat di suatu negara.
Pada perkembangan selanjutnya, pertumbuhan ekonomi suatu negara umumnya akan meningkat dan menjadi faktor utama pendorong pembangunan kemampuan pertahanannya. Wajar karena biasanya sebagian dari hasil pertumbuhan ekonomi itu dialokasikan untuk membangun kekuatan pertahanan. Pertumbuhan kekuatan pertahanan ini diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Fungsi ini dapat dilihat misalnya pertahanan yang kuat diperlukan untuk mengamankan jalur-jalur pelayaran kapal-kapal kargo ekspor dan impor dari ancaman bajak laut. Pengamanan jalur-jalur pelayaran ini dapat dilakukan apabila sebuah negara memiliki kapal patroli yang kuat, kapal radar untuk memantau keamanan pelayaran, kapal reaksi cepat saat ada ancaman terhadap kapal kargo, satelit dan bahkan pesawat-pesawat drone (tanpa awak) untuk mengawasi dan mengamankan jalur pelayaran yang sangat fital bagi perekonomian.
Satu negara yang sudah sangat kuat secara ekonomi akan membangun pertahanannya untuk dapat mengamankan kekuatan ekonominya dari segala ancaman. Langkah-langkah membangun pertahanan ini sudah dilakukan oleh semua negara, terutama negara-negara yang memiliki kapasitas ekonomi sangat kuat, seperti Amerika Serikat (AS). AS bahkan telah menempatkan semua armada lautnya di seluruh wilayah perairan internasional agar dapat segera bereaksi saat terjadi ancaman terhadap kepentingan nasionalnya, termasuk kepentingan ekonomi dan politiknya.
Indonesia sebagai sebuah negara juga perlu membangun perekonomiannya sehingga hasil pertumbuhan ekonomi itu dapat dialokasikan untuk membangun kekuatan pertahanannya. Nilai strategis dari membangun pertahanan ini sangat penting karena Indonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas yang perlu dikontrol dan diamankan dari berbagai gangguan keamanan, baik itu yang menyangkut kepentingan ekonomi ataupun politik. Banyak terjadinya ilegal fishing, penyelundupan kayu, penyelundupan bahan bakar minyak, penyelundupan manusia perahu atau human trafficking, menunjukkan pertahanan Indonesia masih lemah karena belum dapat secara maksimal mengatasi berbagai ancaman tersebut.
    II.            Sistem Ekonomi dan Kemampuan Pertahanan Amerika Serikat (AS) dan China
Negara yang masih menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia adalah Amerika Serikat (AS). Setelah itu, China menyusul sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Selain menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia, AS juga memiliki kemampuan militer terkuat di dunia, ditandai dengan nilai anggaran pertahanan yang melampaui negara-negara lain di dunia. Kemudian, China juga melesat dengan nilai anggaran pertahanan yang terus tumbuh semakin besar, seiring pertumbuhan ekonominya.
AS dengan ekonomi kapitalisnya bangkit sebagai negara superpower setelah memenangkan Perang Dunia II. Ekonomi AS tumbuh kuat sebagai mercusuar dunia di pasar modal, pasar uang, dan pasar komoditi. Dolar AS pun masih menjadi standar utama dalam perdagangan internasional. Pertumbuhan ekonomi yang pesat ini terjadi seiring keberhasilan revolusi hijau dan revolusi industri yang gaungnya sangat terasa di benua AS dan Eropa. Tidak dapat dipungkiri, revolusi hijau dan revolusi industri inilah yang menjadi dasar awal bangkitnya AS sebagai kekuatan ekonomi dunia.
Hingga saat ini, dominasi AS di sektor pertanian dengan beberapa komoditi andalannya pun masih terasa. Diiringi dengan kekuatan sektor manufaktur dan industri yang menjadi andalan untuk pertumbuhan ekspor negara tersebut. AS masih menjadi industri utama untuk pesawat terbang melalui pesawat-pesawat buatan Boeing, serta industri pertahanan yang didukung publik dan pemerintah. Ekonomi AS yang didukung konsumsi domestik yang kuat juga menciptakan stabilitas pada struktur ekonomi Negara Paman Sam tersebut.
Keuntungan dari pertumbuhan ekonomi itulah yang kemudian digunakan untuk membangun kekuatan pertahanannya. Tidak hanya itu, industri pertahanan AS juga menjadi soko guru pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Hal itu dapat dilihat dari besarnya sumbangan sektor industri pertahanan bagi produk domestik bruto (PDB) AS. Industri pertahanan AS yang kuat itu juga didukung oleh kemampuan teknologi tinggi yang mereka kuasai dan terus dikembangkan sejak Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Dingin, hingga saat ini. Pengalaman perang pada saat Perang Dunia I dan II serta Perang Dingin itu bahkan mampu membuat industri manufaktur berubah menjadi industri pertahanan apabila diperlukan saat suasana genting.
Meski demikian, saat ini pengaruh AS mulai dibayang-bayangi oleh China. Negara komunis itu mampu bangkit membangun perekonomiannya sehingga saat ini mampu menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. China disebut menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, meski demikian, seiring perkembangan waktu, Negara itu juga menurut beberapa pengamat menerapkan beberapa sistem kapitalis. China melakukan proteksi yang sangat kuat terhadap industri dalam negerinya dari ancaman asing. Meski demikian, China mendorong perusahaan-perusahaan di negara itu melakukan ekspor dan ekspansi bisnis ke luar negeri. Dukungan pemerintah itu membuat banyak perusahaan China berani melakukan akuisisi besar-besaran terhadap perusahaan-perusahaan di AS dan Eropa. Kebijakan pemerintah China untuk tetap membuat mata uang yuan bernilai rendah di pasar internasional, juga sangat menguntungkan para eksportir asal China karena memiliki daya saing yang lebih besar terhadap pesaing dari negara lain.
Salah satu protes AS terhadap China ialah terkait nilai mata uang yuan tersebut. AS terus mendesak China agar nilai mata uang yuan tidak dipatok pada level yang sangat rendah. Kendati mendapat protes dari AS, China tetap tidak menghiraukannya. Meski demikian, China mulai menjajagi kemungkinan menerapkan kebijakan mata uang yuan yang mengambang atau ditentukan oleh pasar, langkah ini diterapkan di zona perdagangan bebas Shanghai.
Semua langkah itu diterapkan dalam sistem perekonomian China sehingga negara itu semakin kuat secara ekonomi. Seiring dengan menguatnya perekonomian China, negara itu juga terus membangun kekuatan pertahanannya. Yang lebih mengkhawatirkan AS ialah pertumbuhan anggaran militer China yang setiap tahun terus meningkat. AS bahkan mencurigai China mengumumkan jumlah anggaran militer yang lebih sedikit dibandingkan anggaran militer Negeri Panda itu sesungguhnya. Pertumbuhan kekuatan militer China dapat dilihat dari berbagai teknologi tinggi yang kini mereka kuasai antara lain rudal yang dapat menembak jatuh satelit, pesawat tempur stealth yang tidak dapat dilacak oleh radar, kapal induk pertama, dan berbagai perkembangan lainnya. China juga menunjukkan sikap agresif di Laut China Selatan dan Laut China Timur. China mengklaim memiliki seluruh wilayah perairan tersebut sehingga menciptakan perselisihan dengan negara-negara tetangga, terutama Jepang.
Kedua negara itu dapat menjadi cermin bagi Indonesia bahwa membangun perekonomian sangat penting sehingga sebuah negara juga dapat membangun kekuatan pertahanannya. Sebaliknya, membangun industri pertahanan juga sangat penting untuk dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi negara.

 III.            Sistem ekonomi Indonesia dan Pertahanan Indonesia
Indonesia menganut sistem ekonomi campuran. Artinya, Indonesia menggabungkan sejumlah hal positif dari berbagai sistem ekonomi yang ada. Dengan sistem perekonomian itu, Indonesia berupaya membangun kekuatan pertahanannya. Meski demikian, masih banyak kendala yang terjadi seiring perjalanan waktu. Upaya Indonesia membangun kekuatan pertahanannya rupanya tidak berjalan mulus karena banyaknya kepentingan yang ada, baik itu kepentingan domestik ataupun kepentingan internasional.
Di era Presiden Sukarno, Indonesia mampu menjadi kekuatan pertahanan yang disegani di Bumi Belahan Selatan. Setelah pemerintahan Sukarno berakhir, era Orde Baru menjadikan militer sebagai kekuatan pertahanan dan politik. Adanya Dwi Fungsi ABRI di era Presiden Soeharto inilah yang menurut sebagian pengamat memperlemah kemampuan pertahanan Indonesia pada era Orde Baru. Pejabat militer di era Orde Baru juga menempati posisi-posisi politik di pemerintahan sehingga fungsi utama mereka sebagai kekuatan pertahanan menjadi dinomor duakan. Pertumbuhan peralatan pertahanan, termasuk peralatan perang dan militer pada masa Orde Baru, juga mengalami penurunan, dibandingkan di era Orde Lama.
Padahal pada era Boom Minyak pada kurun 1980-an dan 1990-an merupakan saat yang tepat bagi Indonesia untuk membangun kekuatan pertahanan, termasuk membangun industri pertahanan yang disegani dengan menggunakan sebagian keuntungan penjualan minyak bumi yang saat itu harganya melambung tinggi. Memang tampak aneh jika kita mengkaji saat ini, mengapa saat ekonomi Indonesia sangat kuat pada era Orde Baru, tapi industri pertahanan dan kekuatan pertahanan tidak dibangun.
Setelah era Orde Baru berakhir dan Dwi Fungsi ABRI dihapuskan di era Reformasi, Indonesia mulai membangun kekuatan pertahanannya dengan membeli sejumlah peralatan militer dan membangun industri pertahanannya. Di era Presiden Megawati Sukarnoputri, Indonesia mulai membeli pesawat tempur Sukhoi dari Rusia, kemudian di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Indonesia memiliki lebih banyak armada pesawat tempur F16 dan juga menjalin kerja sama dengan negara-negara lain, seperti Korea Selatan (Korsel) untuk membangun kapal selam dan pesawat tempur. Yang lebih menggembirakan, di era SBY, Indonesia mulai serius membangun industri pertahanannya.
Di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, diharapkan industri pertahanan ini terus dibangun dan diperkuat, karena dampaknya sangat besar untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat pertahanan Indonesia. Membangun industri pertahanan akan membuka banyak lapangan kerja, meningkatkan kemampuan teknologi tinggi, dan membuka peluang ekspor produk pertahanan Indonesia ke negara-negara lain. Itu artinya, pembangunan industri pertahanan memiliki berbagai dampak positif yang tidak dapat diabaikan begitu saja oleh semua negara.  

 IV.            Membangun Pertahanan Maritim
Salah satu program kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo setelah dia dilantik adalah membangun kekuatan pertahanan maritim. Program ini membuka peluang bagi peningkatan industri pertahanan maritim dan pertahanan maritim itu sendiri. Artinya, ada sektor industri yang dapat digarap oleh berbagai pihak dan di sisi lain akan memperkuat pertahanan Indonesia.
Misalnya dengan membangun industri kapal-kapal patroli maka ada lebih banyak perusahaan yang akan memiliki proyek dan membutuhkan tambahan tenaga kerja. Industri kapal ini akan membutuhkan bahan baku logam, yang berarti akan mendorong pertumbuhan industri pertambangan mineral dan smelter. Di sisi lain, industri kapal akan terpacu untuk meningkatkan kemampuan teknologi tingginya sehingga dapat memenuhi standar untuk membuat kapal-kapal patroli yang berkualitas.
Kebijakan membangun kekuatan maritim juga menuntut Indonesia membangun teknologi radar dan pesawat tanpa awak (drone) yang dapat digunakan untuk pengawasan dan pemantauan udara. Teknologi radar dan drone tentu merupakan teknologi tinggi yang harus dikuasai oleh sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Kebijakan membangun pertahanan maritim secara langsung akan membuat peningkatan kapasitas SDM Indonesia terus dilakukan, baik dengan mengirim mereka ke luar negeri atau memanggil para pakar asing ke Indonesia.

    V.            Kesimpulan
 Membangun ekonomi dan meningkatkan kekuatan pertahanan Indonesia merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan. Keduanya merupakan siklus yang akan saling menguatkan. Saat pertumbuhan ekonomi ditingkatkan, maka ada kebutuhan juga untuk meningkatkan kekuatan pertahanan, seperti yang sudah dilakukan AS dan China. Sebaliknya, saat kekuatan pertahanan Indonesia dibangun melalui industri pertahanan dalam negeri, maka akan turut mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan saat ekonomi tumbuh, ada alokasi anggaran yang lebih banyak yang dapat digunakan untuk berinvestasi dalam industri pertahanan.
Sistem ekonomi yang diterapkan di sebuah negara akan memiliki dampak bagi peningkatan kekuatan pertahanan apabila sejak awal telah disusun kebijakan yang saling mendukung antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kekuatan pertahanan. Apabila pemerintah mampu menyusun kebijakan yang saling mendukung antara kedua hal ini, tidak mustahil, Indonesia akan bangkit sebagai kekuatan ekonomi dan kekuatan pertahanan yang semakin disegani di dunia internasional. Dengan menjadi kekuatan yang disegani di kancah global, Indonesia dapat lebih banyak melakukan perannya dalam mendorong perdamaian dan keamanan regional dan global.


Daftar Pustaka
Dumairy. (1996). Perekonomian Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Dochak Latief. (1984). Perbandingan sistem skonomi: islam, liberalisme, sosialisme. Yogyakarta: Yayasan penerbitan FKIS IKIP
Cornelis Rintuh. (1995). Perekonomian Indonesia. Yogyakarta: Liberty
Suroso. (1994). Perekonomian Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

No comments: